Langsung ke konten utama

Wakil Bupati Toba Takingin Berlagak Bupati

Wakil Bupati Toba, Tonny M. Simanjuntak, menjilat muntahnya sendiri. Dahulu dia mencacat bupati dari rantau, tetapi sekarang malah menjadi wakil bagi bupati perantau, Poltak Sitorus. Dahulu Tonny menampik tiga kandidat bupati yang mengajaknya mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020, tetapi kemudian menjilat air liurnya sendiri. Sekarang muncul gunjingan: dia dan Bupati Poltak sudah takharmonis lantaran konco-konco Tonny tidak dilantik menjadi pejabat teras di Pemerintah Kabupaten Toba.

oleh Jarar Siahaan | 1.389 kata

Wakil Bupati Toba Tonny M. Simanjuntak
Wakil Bupati Toba, Tonny Simanjuntak, menyimak keluhan dan masukan dari Forum Petani Toba yang bertamu ke kantornya, 17 Maret 2022. (Foto: Jarar F. Siahaan)

Sebelum bertolak ke Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, untuk kontrak kerja satu tahun selaku pemimpin redaksi, saya pernah berwawancara dengan politikus Tonny M. Simanjuntak dan istrinya, Agustus 2019. Pada masa itu dia masih memangku jabatan wakil ketua di DPRD Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara (nama Kabupaten Toba Samosir berubah menjadi Kabupaten Toba pada tahun 2020). Dalam interviu khusus itu Tonny “caleg si bunga papan” membeberkan dirinya menolak kursi wakil bupati yang ditawarkan oleh tiga orang calon Bupati Toba. “Saya masih ingin di DPRD supaya saya lebih matang dalam politik. Umur saya pun baru 40 tahun,” katanya. Istrinya, Erna Grace Sihotang, seia sekata: “Saya belum siap mental kalau suami saya menjadi bupati atau wakil bupati.” Selain itu, Tonny mengharap Bupati Toba berikutnya jangan lagi anak rantau seperti tiga bupati sebelumnya. “Kita butuh bupati yang tinggal di sini, keluarganya di sini, hartanya di sini supaya kita tahu latar belakangnya, agar masyarakat bisa ngomong,” katanya. (Baca selengkapnya “Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau”.)

Kedua sikap politik Tonny tersebut, menolak bupati perantau dan menolak kursi calon wakil bupati, tidak bertahan lama. Tahun 2020 pada akhirnya dia bersedia dicalonkan sebagai Wakil Bupati Toba berpasangan dengan Poltak Sitorus, yang datang dari tanah rantau, dan mereka memenangi pilkada.

Ihwal ketakkonsistenan itu dan beraneka topik lain, saya bersoal jawab dengan Tonny Simanjuntak di ruang kerjanya di gedung kantor Bupati Toba di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, 17 Maret 2022.

Jarar Siahaan: Mengapa Bapak bersedia ikut serta dalam pilkada, padahal sebelumnya menolak?

Tonny Simanjuntak: Saat itu saya berpikir ini kesempatan baik. Peluang seperti itu takkan datang dua kali. Waktu pertama bertemu dengan Pak Poltak untuk membicarakan pilkada, saya biasa-biasa saja. Akhirnya saya mau maju setelah didukung oleh bapatua saya, Pak Tahan Sibarani, yang sering disebut Raja Minyak. Dengan usia saya yang 42 tahun ini saya bersyukur menjadi wakil bupati. Ini di luar dugaan saya. Dulu saya berambisi cuma di DPRD.

Awalnya Bapak mengecam anak rantau menjadi Bupati Toba, tapi kemudian mau berpasangan dengan Pak Poltak Sitorus yang perantau. Mengapa?

Memang itulah harapan saya dulu. Tapi, [di antara para calon Bupati Toba penantang petahana Darwin Siagian] yang siap dengan dukungan partai politik hanya Pak Poltak. Beliau juga pebisnis, pengusaha. Pendidikan dari ITB dan Amerika Serikat.

Dalam beberapa kali acara pelantikan pejabat di jajaran Pemkab Toba, Bapak tidak pernah hadir mendampingi Bupati. Benarkah karena Bapak sudah mulai tidak cocok dengan Bupati?

Ada asumsi dari masyarakat yang mengatakan saya [dan Bupati Toba] sudah pekong, pecah kongsi. Memang banyak yang bertanya. Saya jawab enggak, kami [berdua] baik-baik saja. Benar ada beberapa kali pelantikan, saya tidak hadir. Itu karena masalah waktu saja. Saya menerima undangan pelantikan satu hari sebelumnya dari Sekda [Sekretaris Daerah], padahal saya sudah ada jadwal tugas lapangan.

Apakah Bapak ikut memberi masukan kepada Bupati terkait dengan nama calon pejabat yang akan dilantik?

Saya pernah menyampaikan usul dua nama kepada Bupati. Dijawab Bupati, “Bawa mereka kepada saya biar saya tes.” Tapi, tidak dilantik, karena mungkin belum sesuai dengan standar Pak Bupati. Beliau mengatakan harus orang yang visioner, inovatif, kreatif. Saya harus hargai keputusan pimpinan saya, Pak Bupati. Saya tidak mau wakil bupati itu serasa bupati. Ada ujar-ujar orang tua, “Sada do mataniari binsar.” Artinya apa? Satu komando. Hanya bupati yang bisa mengambil keputusan. Saya tahu tupoksi [tugas pokok dan fungsi] saya dalam bekerja. Tidak ada peraturan yang mengatakan wakil bupati harus ikut menentukan pejabat. Itu hak prerogatif bupati.

Ada kabar Bapak membagi-bagi proyek kepada kontraktor. Apakah itu benar?

Tidak ada saya bagi-bagi proyek. Tugas wakil bupati salah satunya mengawasi perangkat daerah. Jadi, saya sering mengingatkan supaya dinas-dinas memberikan proyek kepada pemborong profesional, bukan pemborong baru yang tidak punya pengalaman, dan jangan sampai ada proyek yang mangkrak.

Dari mana saja sumber biaya kampanye Bapak semasa pilkada?

Ada dari Pak Poltak. Ada juga dibantu Pak Tahan Sibarani.

Berapa uang pribadi Bapak yang keluar untuk operasional kampanye?

Kalau boleh jujur, tidak ada.

Apakah ongkos kampanye dari Pak Poltak dan Pak Tahan itu merupakan utang yang mesti Bapak bayar?

Enggak, tidak ada utang. Tidak ada komitmen kalau kalah, harus bayar ini; kalau menang, harus begini. Karena itulah, saya merasa yakin ketulusan Pak Poltak untuk membangun Kabupaten Toba.

Dulu Bapak mengkritik manajemen kepemimpinan bupati sebelumnya, Pak Darwin Siagian. Bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah sudah lebih baik?

Kalau dibandingkan dengan Pak Darwin, masih sama. Ini, kan, baru satu tahun. Dalam manajemen pemerintahan, saya kira kami [Tonny dan Poltak] masih dalam tahap belajar, masih proses, karena beliau sangat hati-hati. Beliau baru menjadi birokrat, wajar, tidak mau terjebak. Tapi, sekarang beliau sudah mulai terbuka.

Wakil Bupati Toba Tonny M. Simanjuntak
Tonny Simanjuntak di ruang kerja Wakil Bupati Toba di Balige, 17 Maret 2022, setelah wawancara untuk LAKLAK.id. (Foto: Jarar Siahaan)

Jadi, visi “unggul dan bersinar” hasilnya belum mulai terlihat?

Satu tahun pertama [2021], kan, masih anggaran [APBD yang disusun] bupati sebelumnya. Ada juga pandemi Covid-19, semua anggaran di-refocusing. Pernah pemotongan anggaran Kabupaten Toba sampai Rp60 miliar lebih dari Kementerian Keuangan tahun 2021. Anggaran yang telah ada dipotong. DAU-nya [dana alokasi umum] dipotong, DAK-nya [dana alokasi khusus] dipotong. Jadi, kami enggak bisa berbuat apa-apa tahun 2021. Makanya, mulai anggaran tahun 2022 inilah akan kita lihat apakah lebih bagus, apakah stagnan, apakah mundur. Kami harus berjuang untuk membuktikan janji-janji kampanye.

Apakah Bapak menikmati berkarier dalam dunia politik?

Ya. Kehidupan saya sekarang, selanjutnya, sampai seumur hidup adalah politik. Itu sudah saya tanamkan. Bisa saja nanti setelah masa jabatan habis, saya kembali ke legislatif.

Mengapa Bapak keluar dari Partai NasDem?

Ha-ha-ha, itulah namanya politik. Waktu itu [masa pilkada Kabupaten Toba tahun 2020] saya sekretaris NasDem Kabupaten Toba, dan saya bermohon supaya pasangan Poltak-Tonny didukung oleh NasDem. Tapi, keputusan partai ke petahana [Darwin Siagian]. Ya, sudah, karena PDI Perjuangan mendukung Poltak-Tonny, saya mundur dari NasDem. Sekarang saya kader PDI Perjuangan. Pak Poltak juga.

Apakah Bapak masih sering ke kedai kopi, seperti yang dulu Bapak lakukan ketika masih menjadi wakil ketua DPRD?

Kalau itu, saya tidak berubah. Pagi sebelum masuk kantor, saya turun ke kota untuk sarapan di warung sambil ngobrol sebentar dengan warga. Sampai malam juga saya menerima tamu di rumah dinas. Bagi yang datang dari jauh, seperti Habornas [Kecamatan Habinsaran, Borbor, dan Nassau], langsung saya ajak makan. Kalau ada masyarakat atau kepala desa yang datang menyampaikan keluhan, contohnya masalah bansos [bantuan sosial], saat itu juga saya menelepon dinas terkait. Tapi, kalau sudah menyangkut kebijakan, saya tidak berani, dan harus saya teruskan kepada Pak Bupati.

Selain bersemuka dengan rakyat, apakah Bapak juga membaca aspirasi masyarakat Kabupaten Toba lewat media sosial?

Ya, saya sering membaca komentar di Facebook. Sekeras apa pun grup Facebook di Kabupaten Toba ini, saya masuk, semua saya baca. Kalau ada yang maki-maki, saya abaikan. Saya tidak mau beradu argumen. Tapi, kalau ada masukan yang patut dikoreksi, saya langsung menelepon kepala dinas: “Eh, Pak Kadis, ada masuk Facebook masalah jalan. Cek itu.” Kadang juga saya hubungi yang bikin status secara japri [jalur pribadi, seperti pesan WhatsApp dan panggilan telepon] untuk membicarakannya atau, bila perlu, bertemu langsung.

Apakah akun media sosial Bapak dikelola oleh Bagian Humas atau ajudan?

Tidak, saya sendiri yang pegang. Saya punya Instagram dan Facebook. Telepon juga saya sendiri yang angkat, bukan ajudan. Banyak sekali orang yang menelepon. Malam-malam sering ada orang menelepon saya dari kedai tuak hanya untuk menanyakan kabar: “Belum tidur, Pak Wakil? Jaga kesehatan, ya.”

Apakah ada hal lain yang Bapak ingin sampaikan di luar pertanyaan saya?

Kami [Bupati dan Wakil Bupati Toba] meminta masyarakat agar proaktif bekerja. Jauhi sifat dengki. Kalau ada aspirasi, silakan sampaikan kepada kami. Misalnya, mungkin saja ada dinas yang [bikin laporan] “asal bapak senang”, maka kami terbuka untuk umum.

Masyarakat juga supaya peduli dalam pemberantasan narkoba di lingkungan masing-masing. Sekarang Kabupaten Toba peringkat kedua di Sumut dalam penyalahgunaan narkoba. Nanti PNS tiba-tiba akan dites apakah memakai narkoba.

Ini ada pesan penting yang saya utarakan beberapa waktu lalu dalam pelantikan kepala desa, karena waktu itu Pak Bupati tidak bisa hadir. Saya katakan, “Bupati, wakil bupati, kepala desa tidak akan pernah menjadi raja lagi. Tidak seperti dulu lagi. Kalau kita tidak berbuat, kita akan di-bully [dirundung oleh masyarakat lewat media sosial]. Prinsip Pak Bupati itu melayani. Makanya, kita jangan arogan, karena kita dipilih rakyat.”

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 19 MARET 2022

Postingan populer dari blog ini

Wartawan Latteung dan Uji Kompetensi Wartawan

Pengakuan Dosa Aktivis Pemeras