Langsung ke konten utama

Bahasa Batak Toba Asli Tinggal 30 Persen

Kemurnian bahasa daerah Batak Toba makin tergerus. Kebanyakan penuturnya hanya mengenal bahasa kasar, dan takmaklum ragam “kromo inggil”. Tak sedikit pendeta Batak yang tidak fasih berkhotbah dalam dialek tulen. Dus, boleh jadi 99 dari seratus orang Batak Toba yang membaca berita LAKLAK ini juga taktahu bahwa penulisan kepala surat undangan “Gokhon Dohot Jou-Jou” tidak benar. Ingin belajar bahasa Batak yang asli? Bacalah kitab suci Bibel klasik.

oleh Jarar F. Siahaan | 1.602 kata

Siagian Humas Toba Samosir - buku cerpen berbahasa Batak
Robinson Siagian menjawat buku antologi cerpen berbahasa Batak Toba berjudul Anakhonhi Do Hamoraon saat berpose untuk LAKLAK.id di Balige, 1 Agustus 2019. (Foto: Jarar F. Siahaan)

Mereka menamai diri Group Palambok Pusu-Pusu (GP3). Itu sebuah grup tertutup Facebook yang beranggotakan lebih dari sembilan ribu warganet. Pionir, pengasuh, dan para penulis topnya adalah halak hita, orang Batak Toba, dari pelbagai status dan domisili, antara lain dosen, pensyair, agamawan, dan pegawai pemerintah dari Provinsi Sumatra Utara, DKI Jakarta Raya, serta Papua. Mereka bergerombol di dunia maya untuk membina dan melestarikan bahasa Batak Toba. Mereka bertukar pikiran perihal tata bahasa baku dari aspek etimologi, morfologi, sampai sintaksis bahasa Batak. Mereka juga mengarang puisi dan cerita pendek dalam bahasa daerah yang nyaris binasa itu.

Percaya atau tidak, kosakata asli Batak Toba yang masih hidup dalam bahasa lisan sehari-hari penuturnya diperkirakan hanya “tinggal tiga puluh persen,” kata Robinson Siagian, pegiat Group Palambok Pusu-Pusu, yang saya tanyai pada 1 Agustus 2019 di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara. “Dari seribu kata yang kita ucapkan, tujuh puluh persen sudah bercampur dengan bahasa Indonesia. Sejak tahun 1970-an sudah mulai tergerus,” kata pria Batak yang bekerja sebagai Kepala Bagian Humas Pimpinan dan Protokol Pemerintah Kabupaten Toba Samosir ini.

Robinson Siagian menyebut beberapa contoh kata asli Batak Toba yang kini sudah (hampir) punah, tidak hidup lagi dalam bahasa tutur masyarakat: lago, jagar (cantik, indah), jogi (ganteng), sibaganding tua, parbidoan (rumah), dan panggurit (penulis). “Bahasa Batak sebenarnya kaya. Kita punya kata eme, boras, monis, dan indahan, sedangkan dalam bahasa Inggris semuanya sama, rice,” katanya.

Menurut dia, sebab musabab kemerosotan bahasa Batak Toba ialah ketakacuhan kalangan orang tua dalam berbahasa Batak yang baik dan benar dengan anaknya di rumah; ketiadaan mata pelajaran tata bahasa Batak di sekolah; kelangkaan buku bacaan populer berbahasa Batak; dan pengaruh kultur pop, seperti lirik lagu Batak yang berdialek rendah.

Kebanyakan orang tua Batak, baik di kampung maupun di tanah rantau, mengetahui hanya sedikit leksikon orisinal Batak sehingga lebih sering berbicara dengan kata-kata bahasa Indonesia yang “dibatakkan”. Itulah sebabnya hampir takada lagi anak-anak dan taruna Batak yang lincir lidah melafalkan dialek asli bahasa ibunya.

Selain itu, sekarang tidak ada lagi pelajaran bahasa Batak di sekolah dasar dan sekolah lanjutan di beberapa kabupaten di wilayah Danau Toba. Tempo dulu, era tahun 1970-an sampai 1980-an, murid SD dan SMP di Tanah Batak, mulai Tarutung hingga Balige dan Pangururan, belajar ilmu gramatika Batak Toba, termasuk penulisan aksara Batak. Pada zaman itu terdapat dua buku pelajaran bahasa Batak Toba untuk SD, yaitu Na Ringgas Manjaha dan Na Ringgas Manulingkit, buah pena John Liberthy Hutapea, seorang guru di Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Setelah itu, pelajaran bahasa Batak pun dihapus dari kurikulum. “Inilah yang akan diupayakan oleh YPKB. Nantinya kalau muatan lokal bahasa Batak sudah masuk kurikulum, Yayasan akan membantu dalam hal bahan bacaan,” kata Robinson Siagian. Yayasan yang dia maksud ialah Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB), yang digagas oleh Group Palambok Pusu-Pusu pada Juli 2019 di Medan.

Robinson Siagian, yang bercita-cita “saya ingin sekali menjadi ahli tata bahasa Batak,” mengatakan lagu-lagu Batak Toba kontemporer juga turut merusaki bahasa. Dia mencontohkan sebuah lagu asmara yang liriknya “hanya 45 persen bahasa Batak asli. Marsak do hami panggurit mambege on,” katanya. Pencipta lagu tersebut semata-mata menuruti selera bisnis rekaman, atau boleh jadi tidak menguasai bahasa Batak yang murni. Sebaliknya, Robinson Siagian memuji kepedulian Ronni Pangaribuan, pengarang lagu pop Batak, yang bergabung dengan Group Palambok Pusu-Pusu untuk mendalami bahasa Batak “supaya dalam lirik lagunya tidak terlalu banyak kata-kata serapan.”

Di samping lagu Batak, kata Robinson, lembaga agama seyogianya bisa berandil besar dalam melestarikan bahasa daerah. Sayangnya, pendeta gereja Batak pun banyak yang tidak menguasai ragam baku bahasa Batak. Makanya, pendeta sering menggunakan bahasa Indonesia saat berkhotbah. Hal itu pernah ditanyakan Robinson kepada beberapa pendeta. “Ternyata tidak ada SKS mereka mempelajari tata bahasa Batak,” katanya. Meskipun begitu, bisa saja pendeta memperkaya perbendaharaan katanya dari Bibel, terjemahan Alkitab, yang memuat banyak kosakata asli Batak Toba.

Robinson sendiri menjadikan Bibel sebagai salah satu buku acuan dalam belajar bahasa Batak. Apabila ada kaidah morfologi yang mendua, dia akan merujuk pada Bibel. Contohnya, menurut satu buku linguistik Batak Toba, kata ulang mesti ditulis dengan tanda hubung (-), tetapi menurut buku lainnya tidak perlu tanda hubung, dan Robinson mengikuti langgam Bibel: tanpa tanda hubung.

Tentang sejumlah kata dalam bahasa Batak yang berbeda penulisan dan pengucapannya, dia mengatakan sistem tersebut mesti diikuti oleh penulis dan penutur bahasa Batak. Dalam morfologi Batak Toba, jikalau huruf m diikuti oleh p dalam sebuah kata, ucapannya menjadi /pp/ dobel. Misalnya, rimpu dibaca rippu, dan hurimpu dibaca hurippu. Deret konsonan ng yang diikuti huruf k mesti dilafalkan sebagai /kk/. Contohnya, kata kerja maringkat diucapkan marikkat. Akan tetapi, bukankah sejatinya dalam bahasa Batak Kuno tidak ada fonem /k/? “Tahun 1957 hal tersebut sudah direvisi, termasuk dalam penulisan Bibel,” kata Robinson Siagian.

Sejak saat itu para munsyi Batak juga seia sekata bahwa partikel ma, yang semakna dengan -lah dalam bahasa Indonesia, ditulis terpisah dari kata di depannya. Misalnya, “Hujaha ma sada pustaha,” tulis Robinson, bukan “Hujahama sada pustaha.” Dalam bahasa Indonesia: “Kubacalah sebuah buku.”

Untuk memperoleh pengetahuan kaidah bahasa semacam itu, menurut Robinson, orang Batak harus mau belajar, dan tidak perlu malu-malu. “Dulu waktu baru bergabung dengan Group Palambok Pusu-Pusu, saya juga masih sering salah mengeja kata,” ujarnya. Namun, karena bertekun belajar, sekarang dia sudah mampu mengarang buku cerita dalam bahasa Batak Toba. Judulnya Guru Honor (Huhut Do Tumatangis). Bahkan, dia juara keempat dalam sayembara menulis cerita pendek berbahasa Batak yang ditaja Group Palambok Pusu-Pusu, dan cerpennya itu masuk dalam buku antologi Anakhonhi Do Hamoraon.

Pada ujung wawancara, ketika saya menyinggung bahwa Parmalim masih teguh memakai bahasa Batak Toba yang murni, Robinson Siagian menyambutnya: “Parmalim termasuk salah satu yang tersisa, yang masih lestari, dari kebatakan.”

Banyak, atau barangkali kebanyakan, orang Batak Toba tidak menguasai bahasa daerahnya. Salah satunya saya sendiri, penulis berita ini.

Usahkan generasi muda di Facebook, kaum tua dan raja adat pun acap bergalat dalam berbahasa Batak. Sampelnya mudah ditemukan. Lihatlah surat undangan pesta pernikahan orang Batak Toba. Ada tertulis gokhon dohot jou-jou, dan ada pula varian gokkon dohot joujou. Manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Batak Toba?

“Itu salah. Mana boleh mengundang orang dengan joujou,” kata Patuan Raja Bonar Siahaan, 68 tahun, budayawan Batak, yang dipelawa oleh Koran Toba untuk memburas hal ahwal bahasa Batak Toba pada Agustus 2013 di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara.

Seturut semantik, kata joujou tergolong nomina yang bermakna hal memanggil. Bentuk berimbuhan manjoujou artinya memanggil atau memanggil-manggil. Oleh karena itu, kata Patuan, tidak tepat dan takpantas mengajak orang menghadiri pesta adat dengan memanggil. Diksi yang tepat ialah ontang atau mangontang, yang merupakan bahasa Batak tulen. Itulah muradif persis untuk kata Indonesia mengundang. Dia mengatakan joujou tidak sopan, karena ada kesan memanggil secara paksa, sedangkan ontang dengan penuh harap lagi rendah hati. “Sian serep ni roha,” katanya. Selain itu, ejaan kata gokhon dan gokkon pun keliru. Penulisan baku ialah gonghon, yang dilafalkan mulut sebagai gokkon. Dalam bahasa tulis Batak Toba yang asli tidak ada huruf c, k, q, v, w, x, y, dan z. Tulislah ualu (delapan), bukan walu, dan manussi (mencuci), bukan manucci.

Dengan demikian, kata Patuan Raja Bonar Siahaan, manakala hendak mencetak surat undangan pesta adat dalam bahasa Batak Toba, pakailah judul “Gonghon Mardongan Ontang”. Amboi, sedap nian, tabo jahaon.

Menurut pandangan Patuan, bahasa Batak yang bagus dan berkarakter semacam itu banyak yang sudah punah. Di Balige, contohnya, tinggal satu atau dua orang saja yang masih setia menggunakannya. Sekarang bahasa Batak Toba menjadi lancung, sudah takmurni, dan hanya segelintir saja orang Batak yang rela memusingkannya. Cobalah bertanya kepada orang tua Batak apakah mereka masih ajek memakai padanan “mencuci tangan” dalam bahasa Batak Toba. “Kata marburi untuk anak-anak, marbasu bagi orang dewasa, dan marramboan untuk yang dituakan atau orang yang dihormati,” kata Patuan Raja Bonar Siahaan.

Lewat wawancara Koran Toba Patuan juga mengecam sebagian raja adat yang kerap menyimpangkan peribahasa Batak, karena mereka nekat memodifikasi umpasa dengan menyisipkan nama-nama kota masa kini. Ritual adat Batak zaman kiwari pun menjadi takberadab lantaran peribahasa pasaran.

Ada pula raja adat yang tidak paham menyebut gelar bagi pihak hulahula, seperti raja ni hulahula dalam frasa raja ni hulahula nami Hutajulu. Itu salah kaprah, kata Patuan, karena maknanya menjadi tulang rorobot, padahal yang dimaksud adalah marga Hutajulu. Sapaan yang benar: hulahula nami Hutajulu atau raja i, Hutajulu. Kekeliruan berbahasa Batak itu terjadi karena disangka serupa dengan pemakaian preposisi ni dalam frasa raja ni boru.

Ada lagi bahasa yang menyalah dalam upacara adat Batak Toba: mardaun pogu. Sinonim kata makan ini biasanya diucapkan oleh raja parsinabul ketika mengajak hadirin bersantap. Tidak sedikit orang Batak yang menganggap hal itu sebagai ragam bahasa sopan, padahal justru sebaliknya. Mardaun pogu adalah makan bagi kaum pekerja kasar, seperti parsiadapari, pangombak. “Di ulaon ni raja mardaun pogu?” kata Patuan. “Dalam pesta adat, kata yang benar adalah marsipanganon.”

Kalau Saudara ingin menaklik bahasa Batak Toba “kromo inggil” yang asli, halus, dan tinggi mutunya, bacalah Bibel berleter Batak Toba terbitan tempo dulu: kitab Padan Na Robi dan kitab Padan Na Imbaru. Jangan belajar bahasa dari Bibel Batak edisi mutakhir, karena “sudah pakai bahasa pasaran,” kata Patuan. “Saya sendiri belajar bahasa Batak dari Padan Na Robi.”

Tujuh tahun lalu, ketika menjabat Sekretaris Jenderal Lembaga Budaya Batak, Patuan Raja Bonar Siahaan pernah menyurati pemerintah daerah agar bahasa Batak Toba diajarkan kembali di sekolah.

_____
Wawancara saya dengan Patuan Raja Bonar Siahaan terbit pertama kali dalam Koran Toba pada tahun 2013.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 5 Agustus 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Pengakuan Sintua Gereja yang Berselingkuh dengan Istri Sintua