Langsung ke konten utama

Pengakuan Sintua Gereja yang Berselingkuh dengan Istri Sintua

Seorang sintua gereja yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri di Kabupaten Samosir mengakui dirinya berselingkuh dengan istri sahabatnya yang juga seorang PNS dan sintua. “Saya benar-benar malu. Tidak pantas lagi saya menjadi sintua,” katanya kepada Koran Toba.

oleh Jarar Siahaan | 1.658 kata

sintua gereja selingkuh di Kabupaten Samosir
Sintua gereja TS (kiri) diwawancarai Koran Toba di rumahnya di Desa Salaon Toba, Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, 2013. (Foto: Jarar Siahaan)

Sintua TS, 33 tahun, beserta anak dan istrinya tinggal di Desa Salaon Toba, Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara. Ia pegawai negeri sipil dan aktif di gereja sebagai sintua. Pada Januari 2013 ia diperiksa polisi atas pengaduan temannya sendiri, MS, 35 tahun, suami dari P boru S, 33 tahun. Kedua keluarga ini tinggal di desa yang sama. Sejak dulu TS dan MS sudah bersahabat. Keduanya sintua gereja dan sama-sama bekerja sebagai PNS.

Aparat Kepolisian Resor Samosir telah memintai keterangan dari TS sebagai tersangka dan P boru S dalam perkara perzinaan atau perselingkuhan. P boru S mengatakan TS berupaya memerkosa dirinya pada 22 Desember 2012 di rumahnya sendiri, dan keduanya tidak pernah berselingkuh. Namun, TS membantahnya.

Berikut pengakuan TS kepada wartawan Koran Toba, yang mewawancarai dia di rumahnya pada 28 Januari 2013.

Perbuatan saya itu sangat-sangat salah. Saya tidak ingin membersihkan diri. Santabi, Tulang, tu ramba-ramba i pe nungnga huundukhon hasalaanki. Saya sudah dipanggil Camat Ronggurnihuta, dan sudah saya jelaskan semuanya kronologi pertemanan kami.

Apa yang dikatakannya [P boru S] di koran dan di Polres itu tidak benar. Di koran dia bilang saya “mencoba memerkosa.” Di Polres dia bilang “terjadi,” lalu “menyelinap.”

Kami sudah lama berteman akrab. Kami berteman secara dekat mulai April 2008 ketika dia terpilih di PNPM [Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat]. Awalnya dia ikut pelatihan di SMP Negeri 4 [sekarang SMPN 1] Ronggurnihuta. Sepulangnya, dia minta saya memboncengkan pulang. Sekitar Juni 2008, saya belum jadi PNS, dia minta saya menemaninya ke kantor Camat [Ronggurnihuta].

Setelah itu, mulailah dia mengirim SMS dengan kata-kata mesra. “Bah, kenapa jadi begini? Ada apa ini?” pikir saya.

Suatu hari dia menemui saya saat hendak pulang dari pesta. Dia minta saya membantunya mengisi proposal PNPM. Setelah itu, untuk mengantar proposal ke kantor Camat, dia kembali meminta saya untuk mengantarnya.

Tahun 2009, setelah dia tidak lagi di PNPM, kami tidak lagi berhubungan dan berkirim SMS. Tahun 2010, dia membuka warung di rumahnya. Saya jadi sering ke warungnya, termasuk membeli pulsa. Bulan Juni 2012, tepat hari Rabu, saya ke sana membeli isolasi, tisu, lem kertas, dan sebungkus rokok.

“Uang saya tertinggal,” kata saya.

“Bon tidak dilayani,” kata dia.

“Ya sudah,” kata saya, lalu meninggalkan belanjaan itu di atas mejanya.

“Lebih baik saya antarkan nanti, yang penting langsung cair duitnya,” katanya. Menurut saya, mungkin dia cuma bercanda mengatakan itu.

“Oke, antarkan saja,” kata saya.

Sorenya dia datang ke kantor Kepala Desa. Saya kaget. Dia duduk di sebelah saya. Pada saat itu saya sedang belajar mengoperasikan komputer. Di situlah “terjadi.” Kami bercumbu, tapi tidak sampai bersetubuh.

Selanjutnya, hari Jumat, saya ingat persis tanggalnya, 8 Juni 2012, ada pesta di kampung ini. Dia menelepon saya, bertanya kenapa saya tidak datang ke pesta. Kebetulan memang saya sedang bersiap mau berangkat ke pesta itu. Ada warga yang membutuhkan surat-surat, lalu saya ke kantor Kepala Desa lebih dahulu.

Kemudian dia menelepon, “Kau di mana?”

“Di kantor. Kalau ada yang perlu, datanglah ke sini,” jawab saya.

Dia datang. Di sanalah pertama kali kami melakukan hubungan suami istri, dan berlanjut seterusnya. Tidak ingat lagi saya entah sudah berapa kali.

Tanggal 22 Desember 2012 kami berjanji untuk bertemu di rumahnya ketika suaminya keluar. “Kalau kau sudah dekat rumah, miskol saja. Nanti lampu teras akan saya matikan dan pintu saya buka,” katanya. Itu sekitar pukul delapan lewat, malam hari. Namanya juga sudah janjian, saya langsung masuk ke ruang tengah. Dia menyajikan air putih dan kue. Sebelumnya, anak dia berulang tahun, dan dia membuat kue. Saya makan kue itu.

Kemudian dia merendam kain di kamar mandi. Sesudahnya, dia berganti baju, lalu datang menghampiri saya. Kami duduk di lantai. Tidak lama, dia berdiri dan mengambil selimut. Dia membentangkan selimut itu menutupi kaki kami berdua, lalu “terjadilah” semuanya. Saat kami “melakukan”, dia mendengar suara motor suaminya. “Itu motor suamiku,” katanya.

Saya terburu-buru mengenakan baju, lalu berlari menuju ke pintu belakang rumah. Tapi karena ponsel saya tinggal, saya sempat kembali ke dalam. Suaminya sempat melihat saya setelah kabur dari pintu belakang. “Oi!” teriak suaminya. Tapi dia tidak mengenali saya, karena hari sudah gelap.

Saya terjebak SMS. Malam itu juga sampai tiga kali ada SMS masuk dari nomornya, tapi tidak saya balas. “Katakanlah dulu sesuatu untuk memastikan bahwa ini benar-benar kau,” kata saya lewat SMS, lalu dijawabnya. [“Apa kata sandi dalam SMS itu?” tanya Koran Toba. “Ah, tidak usah saya sebutkan,” jawab TS.]

Semalaman kami ber-SMS. Saya bilang kepadanya, “Apa pun yang ditanya suamimu, jangan ceritakan.” Dia membalas, “Sudah saya akui semuanya.”

Saya curiga bahwa yang mengirim SMS itu bukan dia, melainkan suaminya. Saya terjebak.

Menjawab pertanyaan Koran Toba, TS mengatakan istrinya sangat marah mengetahui dirinya berselingkuh dengan istri sahabatnya. Meskipun begitu, istrinya tidak punya niat untuk menuntut cerai. Keduanya masih tinggal serumah saat diwawancarai. “Perilaku saya ini tidak menunjukkan saya seorang sintua. Saya sungguh malu,” kata TS.

Besok harinya, 29 Januari 2013, Koran Toba berusaha menemui MS, suami P boru S, di sekolah tempatnya bertugas di Pangururan dan di rumahnya di Desa Salaon Toba untuk wawancara, tetapi ia tidak ada di sana. Kemudian wartawan koran ini menempuh perjalanan selama dua jam menuju ke Desa Ronggurnihuta, Kecamatan Ronggurnihuta, melewati hujan dan jalan yang rusak untuk menemui P boru S guna mengecek pengakuan TS.

Sejak akhir Desember 2012, P boru S beserta anak-anaknya sengaja pindah ke rumah orang tuanya di Desa Ronggurnihuta, sedangkan suaminya tetap di Desa Salaon Toba. Di bawah ini bantahan P boru S atas tuduhan berselingkuh dengan TS.

Pada saat kami berdua diperiksa di Polres Samosir, dia [TS] selalu berbohong. Caranya berbicara pun menghina sekali. Dia tidak mengatakan kepada polisi bahwa kami suka sama suka.

Menurutnya, pada malam kejadian, 22 Desember 2012, televisi dalam keadaan mati, padahal faktanya saat itu TV di rumah kami masih hidup. Dia datang pukul 09.30 malam dari pintu depan, bukan pukul 08.00 seperti dia katakan kepada polisi.

Ketika dia mengebel, saya tanpa curiga langsung membuka pintu. Dia bilang mau membayar pulsa dan membeli rokok. Waktu saya sedang mengambil rokok, dia langsung mengunci pintu. Dia menarik tangan saya ke ruang tengah. Dia mematikan lampu. Mulut saya ditutup. Dia mengancam, “Jangan coba-coba berteriak. Kalau kau berteriak, kau akan kubunuh, dan anakmu juga.” Saya menjadi takut.

Dia berbuat cabul terhadap saya. Sambil berdiri, dia menciumi saya. Dipeganginya bagian depan tubuh saya.

Anak saya menangis. Dia sempat melepaskan tubuh saya sebentar ketika dia membuka bajunya, lalu saya hendak menggendong anak saya. Saat itulah suami saya datang. Dia kabur dari pintu belakang dengan mengenakan kaus kutang.

Dia bersahabat dengan suami saya. Sama-sama sintua gereja. Suami saya juga di BPD [badan perwakilan desa].

Ketika kami berdua dikonfrontasi di kantor Polres, dia beberapa kali menjawab keterangan polisi dengan membaca dari kertas yang sudah disiapkannya. “Kita bukan sedang ujian sekarang. Tidak usahlah kau pakai ilmu tilik. Kalau kau tidak ingat apa yang terjadi, tidak usah bikin komentar,” kata saya.

Tidak benar saya berkirim SMS-SMS mesra kepada dia. Memang pernah saya meminta bantuan kepadanya dalam hal surat-menyurat administrasi, karena dia bekerja di kantor kepala desa.

Memang kami sudah lama saling kenal, karena dia berteman dengan suami saya, tetapi bukan hubungan khusus. Tidak benar sama sekali kami pernah berhubungan intim. Itu fitnah.

Apa pun yang dikatakannya kepada polisi dan wartawan tentang kejadian 22 Desember itu tidak benar sama sekali. Itu penghinaan buat saya dan keluarga saya. Dia melakukan perbuatan cabul dan usaha pemerkosaan terhadap saya. Kami tidak pernah berhubungan intim. Saya kira dia berniat agar saya bercerai dari suami saya.

Suami saya selalu di rumah sepulang mengajar dari sekolah. Kalau ke pesta, dia sering berangkat bersama dengan suami saya. Warung kami selalu buka mulai pagi. Jadi, kapan kami sempat berpacaran atau bertemu untuk “melakukan itu”? Tidak mungkin.

Abang kandung P boru S juga menyampaikan pernyataan kepada tabloid Koran Toba sebagai berikut:

Laporan lae saya itu, istrinya diganggu orang. Langsung polisi membuat pasal perzinaan. “Saya buta hukum, tidak mengerti, tapi saya keberatan atas perlakuannya terhadap istri saya,” kata lae saya.

Kemudian saya pergi ke Polres Samosir. Polisi mengatakan apabila ingin dikenakan pasal upaya pemerkosaan, apakah ada bukti atau saksi? “Tapi masih bisa kita lihat nanti, tergantung pada keterangan istri si pelapor,” kata polisi. Kami ingin agar pasal itu diganti. Kami tidak melaporkan perzinaan, tetapi upaya pemerkosaan. Dia [TS] tidak bisa lolos dari jeratan hukum.

Seharusnya dia menjadi panutan. Dia seorang sintua gereja dan sekretaris desa. Justru dia yang harus memperbaiki desanya. Menurut saya, dia bukan sembarang PNS. Hasil musyawarah masyarakatlah sehingga dia menjadi sekretaris desa, bukan karena pendidikannya. Dia harus diganti, karena dia tidak lagi menjadi pengayom. Itu yang saya minta kepada atasannya di kantor Pemkab Samosir lewat berita Koran Toba.

Setiap orang tercela seperti dia tidak dapat bertugas sebagai pengetua gereja. Sintua haruslah orang yang bisa menahan diri. Saya berharap agar dia diban dari gereja dan dari jabatannya sebagai sintua.

Ada upaya dari pihaknya untuk berdamai secara adat, tetapi caranya tidak tepat. Hanya orang lain yang disuruh, itu pun sebatas kabar burung. Jika dari awal mereka datang untuk berdamai, tidak perlu kasus ini sampai kepada polisi.

Ada kabar angin, dia ingin agar saudari saya bercerai dari suaminya, supaya dia menjadikan saudari saya ini sebagai istri keduanya. Karena keluarga kami merasa sangat malu, sebenarnya saya ingin menemui dia untuk membuat perhitungan. Saya sangat emosional. Tetapi saya juga paham bahwa ada hukum negara, tidak boleh main hakim sendiri.

Saat berlangsungnya wawancara dengan P boru S dan abangnya, tiba-tiba MS, suami P boru S, mengirim SMS untuk Koran Toba melalui ponsel istrinya:

“Saya keberatan perbuatan TS. Dia pengayom masyarakat, sekdes, PNS, sintua. Dia mencoba usaha pemerkosaan terhadap istri saya pada 22 Desember 2012. Dia harus ditangkap dan dipecat dari sekdesnya, sebab tidak bermoral. Mohon dihukum, dipenjarakan!”

Berita ini saya tulis tahun 2013 dalam tabloid Koran Toba.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 28 JULI 2019

Postingan populer dari blog ini

Petualangan Sibiobio Simbolon

Muslihat Politik Jautir Simbolon