Langsung ke konten utama

Serasi Silalahi: Tidak Tega Bersikap Kasar terhadap Tahanan

Namanya cuma ditulis satu kata, Serasi, tanpa nama keluarganya, marga Silalahi, dalam administrasi kepegawaian. Kepala Pengamanan Rumah Tahanan (Rutan) Balige ini tidak sempat mengenal ayahnya, tetapi berhasil menemukan makamnya tahun 1994; diterima menjadi pegawai negeri tanpa sogok; menarik becak di luar jam dinasnya.

oleh Jarar Siahaan | 664 kata

Silalahi di Rutan Balige Toba Samosir
Serasi Silalahi di tempat tugasnya, Rumah Tahanan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Maret 2013. (Foto: Jarar Siahaan)

Serasi Silalahi, 44 tahun, berbangga hati bisa menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatra Utara tanpa kongkalikong. “Sedikit pun tidak pakai uang [sogok],” kata Serasi Silalahi, yang kini berjabatan Kepala Pengamanan Rumah Tahanan Balige, Kabupaten Toba Samosir, kepada Koran Toba pada Maret 2013 di kantornya.

Puluhan tahun silam, setamat dari sekolah pendidikan guru, ia membaca sebuah iklan dalam surat kabar tentang penerimaan pegawai negeri sipil pada Kementerian Hukum dan HAM. Ia pun nekat mengikuti ujian masuk tersebut, dan berhasil. Kemudian ia ditempatkan untuk bertugas di Rutan Balige pada tahun 1992.

“Saya masih ingat persis tanggalnya, 1 September 1992. Saya naik bus Bintang Utara dari Langkat ke Balige, bus bernomor 17. Bangku saya nomor 11. Saya tidak bisa melupakan pertama kali datang ke Balige,” katanya. Sejak hari itu sampai sekarang ia sudah dua puluh tahun tinggal dan bekerja di Balige.

Sebagai pendatang, ia berusaha memahami karakter orang Balige dengan pelbagai cara, salah satunya dengan menarik becak. Pada rentang tahun 1994 sampai 1997, selama empat jam atau lima jam saban hari, jika tidak bertugas di Rutan Balige, ia menjadi tukang becak. Itu dikerjakannya bukan untuk menambah penghasilannya, melainkan “hanya untuk memperluas pergaulan. Sering ada orang yang hanya membayar ongkos Rp1.000 ke Desa Matio atau Hinalang, saya antar juga. Yang penting saya jadi tahu seluk-beluk Balige,” katanya. Becak sewaan itu jugalah yang dipakai Serasi Silalahi untuk menandangi kekasihnya, seorang guru di Kecamatan Laguboti yang kini menjadi istrinya, termasuk untuk mengantarnya ke gereja atau berbelanja ke pasar. “Dia tidak malu walaupun saya naik becak,” katanya.

Kendati sekarang sudah berkecukupan sebagai pegawai pemerintah, sebenarnya masa kanak-kanak dan remaja Serasi Silalahi terbilang memasygulkan. Ia terlahir sebagai anak tunggal. Ia tidak sempat mengenal ayah kandungnya yang sudah meninggal tatkala Serasi masih kecil. Barulah pada tahun 1994 ia berhasil menemukan kuburan ayahnya di Langkat, Provinsi Sumatra Utara. Ibunya pun telah tiada saat ia belum hidup mandiri. Yang menghidupi dan membiayai pendidikannya sejak sekolah dasar hingga sekolah pendidikan guru ialah keluarga Sembiring, bapauda-nya.

Selama dibesarkan oleh keluarga Sembiring, namanya yang tercantum dalam buku rapor sekolah, KTP, dan surat-surat kependudukan hanyalah Serasi, tanpa marga Silalahi, termasuk dalam SK kepegawaian. Karena itulah, sampai sekarang nama resminya cuma Serasi. “Tapi dalam akta kelahiran masih tertulis Silalahi,” katanya.

Ia mengaku bangga menjadi orang Batak Toba, anak dari marga Silalahi. Ia proaktif mengikuti hajatan adat-adat Batak di Balige. Bahkan, sekarang ia dipercayai sebagai Ketua Punguan Pomparan Raja Silahisabungan di Kecamatan Laguboti. “Saya bercita-cita mau menyatukan saringsaring bapak dan ibu saya di Silalahi Nabolak di Dairi,” ujarnya.

Semua pengalaman hidupnya itu sedikit banyak memengaruhi Serasi Silalahi dalam menjalankan tugasnya di Rutan Balige. “Makanya saya tidak tega bersikap kasar terhadap tahanan dan napi. Inanguda saya, keluarga Sembiring yang membesarkan saya dulu, selalu berpesan bahwa orang tidak harus dipukul agar berubah, tapi cukup dengan kata-kata atau nasihat,” katanya.

Di Rutan Balige, dalam menghadapi para tahanan, Serasi lebih mengedepankan pendekatan personal dan psikologis, tidak semata-mata hukuman fisik. Ia mencontohkan, manakala melihat tahanan melamun, ia sengaja menyapa, “Apa yang kaupikirkan?” Biasanya tahanan akan mengungkapkan keluh kesahnya, dan sesudahnya berasa lega.

Pernah ada narapidana yang berbuat salah di penjara dipanggil oleh Serasi Silalahi ke ruang kerjanya. “Saya hanya menyuruh dia berdoa, lalu saya tinggalkan. Saya berikan kertas untuk ditulisinya apa-apa saja kesalahannya. Setelah itu, dia menangis,” katanya.

Sikap bersahabat Serasi Silalahi terhadap narapidana tersebut berkesan bagi banyak warga binaan di Rutan Balige, bahkan setelah mereka sudah keluar dari penjara. Contohnya, pada tahun 2009, ketika Serasi berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan kedinasan, ia ditelepon dan dijemput oleh seorang bekas penghuni Rutan Balige. Ia dibawa jalan-jalan di Jakarta dan dijamu makan di rumahnya.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 25 JULI 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Pengakuan Sintua Gereja yang Berselingkuh dengan Istri Sintua