Langsung ke konten utama

Dari Pasir Menjadi Mutiara

Awal tahun 1900-an Kilian Hutabarat sudah belajar ke Malaysia, lalu pulang ke Balige dengan visi bisnis: ia dan lima saudagar Batak mendirikan Bank Balige. Stasiun gasolin Barat yang dirintisnya telah berkembang pesat di tangan cucunya Sebastian Hutabarat. Nama “pom bensin Barat” hanya akan menjadi sejarah kalau tanpa perjuangan menantunya: Mutiara Napitupulu.

oleh Jarar F. Siahaan | 1.976 kata

foto Balige Toba Samosir tempo dulu pom bensin Hutabarat
Sebastian Hutabarat kanak-kanak (duduk, kanan) bersama dengan dua abangnya dan para pekerja pom bensin Barat di Kota Balige tahun 1971. (Foto: Oscar Hutabarat)

Semasa hidupnya Kilian Hutabarat dikenal sebagai orang berduit dan terpelajar di Kota Balige, Keresidenan Tapanuli. Tahun 1938, ketika bangsa Indonesia masih dijajah Kompeni, Kilian sudah mengenakan jas, bergelar “toke”, dan menjadi subjek berita dalam surat kabar karena ia mendirikan bank. Bayangkan: bank, entitas yang pada tempo itoe belum terpikirkan oleh rakjat mana poen di seluruh Tanah Batak.

Saya melihat tiga lembar fotokopi guntingan koran Bendera Kita bertarikh 6 Agustus 1938. Media cetak itu diterbitkan di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara, dan dipimpin oleh J. Siahaan. Tajuk utamanya, yang saya kutip secara akurat, termasuk tanda bacanya: “„Matahari terbit” dari kota Balige”. Subjudulnya dua lapis: “Pemboekaan Batakse Crediet en Handelsbank” serta “Kapitaal f50.000 dan nanti f100.000”. Di bawah judul ada foto enam lelaki Batak bersetelan jas lengkap dengan dasi, dan beberapa dari mereka bersongkok. Keenam juragan Balige itulah yang mencukongi Batakse Crediet en Handelsbank Balige (BCHB), atau diringkas sebagai Bank Balige dalam berita tersebut. Selain Toke Kilian Hutabarat, yang duduk sebagai komisaris, mereka adalah Toke Marinus Simandjoentak, Toke Dja Cijrus Pasariboe, Toke Baginda Pemimpin Siahaan, Soetan Manahanlaoet, dan Toke Maroedin Sibarani. Mereka berlatar belakang niaga: juragan pabrik tekstil, saudagar beras, dan tauke toko.

Berita peresmian Bank Balige itu dibuka dengan kalimat, yang penulisannya telah saya alih aksarakan dari ejaan van Ophuysen: “Diam-diam tetapi bekerja dari lahir sampai segenap hati. Di luar dugaan!” Selanjutnya tertulis: “Mereka di Balige dengan maksud pendirian bank itu tidak banyak berbicara, tidak perlu gembar-gembor… tetapi adalah upaya bekerja dengan diam-diam.” Pada bagian tengah berita tercetak dengan huruf tebal untaian kata-kata nan elok nian, yang tidak akan pernah ditulis oleh wartawan zaman kiwari: “Kota Balige rasa-rasa kegegeran.”

Seorang pejabat Pemerintah Belanda, Tuan Controleur, berpidato pada peresmian Bank Balige itu: “Memang jika kita melayangkan pandangan ke seluruh daerah Toba, nampaklah sawah-sawah yang lebar itu, yang tiap tahun mengeluarkan hasil padi yang banyak. Penghasilan dari situlah yang terutama menyokong hidupnya toko-toko di pasar Balige ini. Kita boleh bergirang melihat toko-toko yang berdiri di Balige. Terang bahwa perdagangan semakin tambah pesat di Balige, dan kelak Balige akan menjadi pusat perdagangan di seluruh Tapanuli.”

Selain beras Balige yang terkenal, pabrik tekstil, dan bank, sebelum kemerdekaan Indonesia pun sudah ada dua pabrik rokok di Kota Balige, yang sekarang hanya menjadi kenangan sejarah. “Dulu ada rokok merek Tjap Panah dan merek Sedia. Pabriknya menyerap tenaga kerja,” kata Tambos P. Siahaan, ayah saya. Ia menilai kejayaan Kota Balige kekinian justru menjadi surut kalau dibandingkan dengan apa yang sudah ada di Balige sejak delapan puluh tahun silam.

...

Kilian Hutabarat adalah ayah dari Oscar Hutabarat, dan Oscar Hutabarat adalah ayah Sebastian Hutabarat. “Kakek saya Kilian Hutabarat berangkat ke Malaysia dari Pagarsinondi, desa terpencil yang dari dulu sampai sekarang tidak ada fasilitas air minum di sana. Waktu itu Indonesia belum merdeka, tapi dia sudah menuntut ilmu ke Malaysia. Kebayang enggak apa yang ada dalam pikirannya ketika itu?” kata Sebastian Hutabarat, 46 tahun, kepada saya di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, 4 April 2016.

Sebastian Hutabarat, fotografer pemilik percetakan foto TobaArt, menceritakan bahwa Kilian mengumpulkan adik-adiknya dan menyampaikan niatnya untuk pergi ke Malaysia. Mereka mendukung dan menghimpun uang untuk ongkos Kilian. Di Malaysia ia belajar teknik mekanika mesin mobil. Sepulang dari Malaysia ia sempat tinggal di kampung halamannya di Pagarsinondi, Kabupaten Tapanuli Utara, kemudian bekerja di Tapanuli Selatan, tetapi hanya beberapa tahun. Selanjutnya ia memutuskan untuk menetap di Balige, kota kecil yang dilihatnya lebih prospektif. Ia bekerja sebagai sopir dan sekaligus mekanik Kompeni, persekutuan dagang penjajah Belanda. Setelah cukup modal, ia membuka toko dengan namanya sendiri: Toko Kilian Hutabarat.

“Yang menarik, persepsi Penang sudah ada dalam pikirannya walaupun saat itu belum ada apa-apa di Balige. Dia sudah melihat visi Balige jauh ke depan sebagai kota dagang,” kata Sebastian.

Kilian mengajak orang Balige berbisnis, menjadi saudagar. Ia menyopiri truk ke Kota Sibolga, yang membawa beras untuk dijual, dan dari Sibolga ia mengangkut ikan asin dan garam. Setelah itu, ia menjalankan bus penumpang merek Beta Hamu. “Beras Balige telah terkenal dari dulu,” kata Sebastian.

Kemudian ia bercerita tentang ayahnya, Oscar Hutabarat, yang dikaguminya dan sekaligus dijulukinya sebagai “feodal” dan “Belanda”. Oscar bersekolah di MULO, setara dengan SMP, milik Belanda di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, tetapi harus putus di tengah jalan karena sekolah itu tutup akibat agresi Jepang di Indonesia. Ia kembali ke Balige membantu ayahnya, Kilian, menyetir bus penumpang Beta Hamu ke Sibolga dan truk tangki ke Pematangsiantar. Selama beberapa tahun menjelang kemerdekaan Indonesia, 1945, di bawah penjajahan Jepang, “Kehidupan semakin berat. Bapak saya, anak seorang tauke, harus putus sekolah dan menjadi sopir, padahal teman-temannya melanjutkan pendidikan ke negara Belanda,” kata Sebastian Hutabarat. “Tapi Bapak pribadinya keren. Saya ingat cerita Bapak, kalau bannya bocor, ia mengambil getah pohon karet dari kebun di pinggir jalan untuk ditempelkan pada ban. Belum ada bengkel. Angin ban diisi dengan pompa tangan. Lamanya berjam-jam.”

Tahun 1949, setelah kondisi perekonomian membaik, Oscar Hutabarat berangkat ke Medan, bekerja di bagian administrasi perusahaan petrol Shell milik Belanda. Pada 1958 ia menikah di Balige dengan Mutiara Napitupulu, seorang guru, yang usianya jauh lebih muda, dan kembali lagi ke Medan. Ketika itu Kilian, orang tua Oscar, telah memulai usaha pompa bensin di pusat Kota Balige, persis di sebelah rumah makan Gumarang sekarang. Namun, baik Sebastian maupun ibunya tidak ingat kapan tepatnya Kilian merintis stasiun petrol itu.

Sekitar satu tahun setelah menikah, istrinya hamil, dan Oscar pun harus pulang ke Balige. Ia bekerja membantu ayahnya menjalankan roda bisnis bensin, dan nyawanya pernah terancam karenanya. Tahun 1960, pada masa pemberontakan Permesta, Oscar mengendarai truk tangki berisi bensin dari Pematangsiantar menuju ke Balige. Di tengah jalan di kawasan perkebunan antara Pematangsiantar dan Parapat, pemberontak bersenjata api mengadangnya. Mereka merampas truk beserta muatannya, dan menyuruh Oscar pergi. Akan tetapi, Oscar bergeming. “Mobil dan minyak ini adalah sumber penghidupan bagi keluargaku, istriku, dan orang tuaku. Jadi, kalau kalian mengambilnya, itu sama saja kalian membunuh semua keluargaku,” katanya. Akhirnya pemberontak membawa dan menawannya selama satu bulan. Setelah bensin di dalam tangki habis terpakai oleh pemberontak, Oscar dan truknya dilepaskan. Ia pun pulang ke Balige dengan wajah penuh bulu: kumis dan jenggot yang lebat tidak terurus.

“Sekitar 56 tahun yang lalu, inilah mobil yang dibawa Bapak ketika dia ditahan sampai satu bulan di hutan,” kata Sebastian Hutabarat, yang mengajak saya ke pekarangan belakang pom bensin Barat untuk menunjukkan rongsokan mobil tersebut. Ia mengagumi keberanian ayahnya mempertahankan truk tangki itu. “Bisa saja dia dibunuh waktu ditahan, tapi dia nekat.”

foto jadul pom bensin Barat di Balige Tobasa
Mutiara Napitupulu menggendong anak bungsunya, Sebastian Hutabarat. Dua putrinya duduk di kursi. Mutiara memiliki empat putra dan lima putri. Foto klasik ini dijepret oleh suaminya, Oscar Hutabarat, di pom bensin Barat di Kota Balige tahun 1971.

Uang tabungan keluarga besar Hutabarat dari laba bisnis pom bensin dipakai untuk membangun sebuah hotel satu tahun lalu: Mutiara Balige Hotel. Sahamnya dimiliki oleh sembilan bersaudara dan ibu mereka, Mutiara Napitupulu. Pendirian hotel itu adalah upaya Sebastian Hutabarat beserta kedelapan kakak dan abangnya “untuk mengabadikan nama ibu kami,” kata Sebastian, “karena perjuangannya luar biasa untuk keluarga. Hidupnya ibarat pasir yang masuk ke dalam tubuhnya, menyakitkan, tapi akhirnya dia pasrah dan berdamai menerimanya.”

Mutiara Napitupulu bercerita kepada saya bahwa sewaktu tinggal di Medan selama satu tahun setelah menikah, suaminya masih bekerja di perusahaan perminyakan Belanda. Manakala hujan turun, Mutiara pergi ke kantor Oscar Hutabarat dengan menggowes sepeda ontel untuk mengantarkan payung kertas dan jaket kepada suaminya, lalu dia segera kembali ke rumah dengan kereta angin itu. Mutiara mengatakan: “Kawan-kawan sekantornya tersenyum. ‘Terlalu cinta, ya, sama Pak Oscar?’ kata mereka.”

Setelah kembali ke Balige bersama dengan suaminya, dia bekerja menjaga pom bensin. Kala itu jumlah mobil dan sepeda motor milik warga Balige masih bisa dihitung dengan jari, sedangkan stasiun gasolin ada tiga berhadap-hadapan di lokasi yang sama di pusat kota. Konsumen bensin di Balige pada zaman itu hanyalah bus penumpang dan truk dari Sibolga, Medan, dan Padang. Karena itu, ia mesti aktif mencari pelanggan. Kalau ada kapal dari Pulau Samosir membawa penumpang, dia proaktif mendatangi mereka untuk menawarkan bensin dan minyak tanah. Dia sendiri langsung mengantar minyak dalam jeriken ke kapal Samosir yang bersandar di dermaga Danau Toba dekat tanah lapang Sisingamangaraja. “Saya gendong anak-anakku ke sana. Saya menggelar tikar di tanah lapang. Saya dudukkan anakku di sana, tapi saya perhatikan juga jangan sampai dipijak kerbau,” kata Mutiara. Sebastian terbahak-bahak mendengarkan cerita ibunya itu.

Pom bensin Barat punya dua karyawan lelaki, tetapi pada malam hari mereka sering tertidur karena keletihan. Mutiara-lah yang lebih sering menongkrongi pompa hingga larut malam. Jika karyawannya sedang bertugas mengisi bensin, dia juga sering memelototi angka pada meteran. “Misalnya dibeli empat puluh liter. Ketika meteran sudah di angka 39, saya langsung bilang, ‘Setop! Setop!’ Tertawalah para sopir itu melihat saya,” katanya.

Oscar Hutabarat, sang suami, tidak ikut turun tangan menjaga pom bensin. “Oh, Belanda dia itu, ha-ha-ha, duduk di kantor saja mengurus pembukuan,” kata Mutiara.

Manakala harga minyak naik, sering ada polisi yang protes, dan Mutiara juga yang menghadapi mereka: “Saya katakan, ‘Saya di sini berjualan minyak untuk cari makan. Kalau kalian mau minta uang, ini kunci pompa, bawalah semua bensin ini.’ Polisi itu pun pergi, tidak dapat duit dari saya, ha-ha-ha.”

Untuk melawan dinginnya malam, Mutiara Napitupulu selalu meminum tuak atau bir hitam. Berpuluh tahun kemudian dia pernah kena penyakit lever akibat alkohol itu.

Ada satu peristiwa yang takbisa dilupakannya dalam memperjuangkan pom bensin Barat. Suatu hari pejabat Pertamina di Kota Medan bernama Salomo berjanji memberikan pompa tipe terbaru kepada Mutiara. Namun, pompa itu tidak kunjung tiba di Balige, dan malah terlihat oleh Mutiara di stasiun bensin di Pematangsiantar. Karena itu, dia berangkat ke Medan untuk memprotes Salomo di kantor Pertamina. “Jauh-jauh saya datang ke sini karena Bapak yang menjanjikan, tetapi Bapak tidak konsisten dengan ucapan Bapak. Mana pompa saya? Ini saya sudah merah-merah, berdarah, kandungan saya sudah cukup umur. Jangan sampai saya melahirkan di atas meja Bapak ini!” katanya.

Pendek kata, si pejabat menulis secarik katebelece untuk dibawa Mutiara kepada pengusaha SPBU di Pematangsiantar. Alhasil, mesin pompa pun beralih ke tangan Mutiara.

Begitu tiba di Balige, ketika masih berdiri di depan pintu rumah, “Lahirlah anak saya, laki-laki. Tidak sempat lagi panggil bidan,” kata Mutiara. Kemudian dia menulis surat kepada pejabat Pertamina itu: “Bapak Salomo yang terhormat, anak saya sudah lahir, dan saya memberinya nama Salomo, seperti nama Bapak. Sepanjang hayat di kandung badan, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak.”

Masalah lain yang mesti dihadapi Mutiara juga datang dari keluarga besar Hutabarat sendiri, termasuk dalam urusan keuangan. “Kalau tidak ada uang diberikan untuk membeli minyak dari Sibolga, saya tunggui orang-orang di sebuah kantor asuransi untuk meminjam uang dari mereka. Bertahun-tahun saya sering meminjam uang, dan saya tidak peduli, yang penting pompa bensin ini tidak sampai tutup seperti yang lain,” katanya.

Dua tahun setelah suaminya meninggal pada 2007, Mutiara Napitupulu mengumpulkan kesembilan anaknya, dan mereka berdoa. Dia berkata kepada mereka, “Uang hasil usaha pompa bensin yang ditinggalkan bapak kalian masih utuh saya pegang. Bersepakatlah kalian mau dikemanakan uang ini, terserah kalian anak-anakku.”

Sebastian mengatakan kepada saya, “Awalnya mau bikin sembilan ruko, masing-masing dapat satu. Tapi kemudian kami sepakat membangun hotel dengan sepuluh pemilik saham, termasuk ibu kami, dan yang mengelola hotel ialah saudara perempuan saya.” Karena uang warisan ayahnya tidak cukup untuk mendirikan hotel, kata Sebastian, “Ito saya di Balige dan abang di Jakarta menambah dana.”

foto di Balige, Mutiara Napitupulu, anaknya Sebastian Hutabarat
Mutiara Napitupulu dan putranya Sebastian Hutabarat di pom bensin Barat di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, 4 April 2016. (Foto: Jarar F. Siahaan)

Pada penghujung wawancara, Sebastian dan ibunya tertawa tergelak-gelak ketika mengisahkan sebuah minicerita, katakanlah, berjudul “Bayi Mabuk”.

Sebastian Hutabarat: Bilang dulu cerita yang lucu gara-gara minum tuak itu, Mak.

Mutiara Napitupulu: Ha-ha-ha, kau sajalah yang bercerita.

Sebastian Hutabarat: Waktu itu abang saya yang paling tua masih bayi. Suatu hari semua keluarga kaget karena dia tertidur terlalu lama.

Mutiara Napitupulu: Ha-ha-ha.

Sebastian Hutabarat: “Bah, kenapa dia ini?” Langsung dibawa dia ke rumah sakit. Dibangunkan sama perawat, tapi tidak bangun-bangun juga.

Mutiara Napitupulu: Ha-ha-ha.

Sebastian Hutabarat: Ternyata karena si bayi ikut mabuk, ha-ha-ha.

Mutiara Napitupulu: Mabuk karena air susu ibunya bercampur tuak, ha-ha-ha.

Catatan Jarar Siahaan: berita ini saya terbitkan dalam tabloid Batak Raya pada 2016 dengan tajuk “Mutiara di Barat”.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 5 JULI 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Wartawan Latteung dan Uji Kompetensi Wartawan