Langsung ke konten utama

“Ikutilah Kitab Suci Injil, Jangan ‘Buku Manual’ Pusuk Buhit”

Wasir Simanjuntak mengecam orang Batak yang mendaki Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir untuk berdoa. Ia pun mengatakan bahwa memanjatkan doa kepada Tuhan lebih baik daripada menabur itak gurgur.

oleh Jarar F. Siahaan | 1.124 kata

foto pejabat Toba Samosir di Balige
Wasir Simanjuntak di kantornya di Balige difoto sebelum pensiun, ketika masih bertugas pada Pemerintah Kabupaten Toba Samosir tahun 2013. (Foto: Jarar Siahaan)

Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Toba Samosir, Drs. Wasir Simanjuntak, yang pernah bertugas sebagai Camat Palipi di Kabupaten Samosir, dengan cermat membaca sepuluh halaman liputan khusus tentang Gunung Pusuk Buhit dan “nabi” Raja Uti yang terbit dalam Koran Toba. Ketika saya mewawancarai dia di kantornya di Balige pada 6 Maret 2013, dia menyatakan tidak setuju dengan orang yang pergi berdoa ke puncak Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara. Berikut tanggapan Wasir Simanjuntak selengkapnya:

Dalam kehidupan ini ada dua pegangan, dua aturan, tentang cara hidup. Satu cara hidup yang ditetapkan oleh Tuhan, dan satu cara hidup yang ditetapkan oleh manusia. Cara hidup orang Batak tentu budaya Batak. Cara hidup orang Kristen tentu Injil. Jadi, cara hidup itu ada dua: budaya dan buku suci agama. Buku suci orang yang beragama Kristen adalah Alkitab.

Cara hidup menurut Injil Kristen itu berlaku di seluruh dunia, sedangkan cara hidup menurut budaya Batak berlaku lokal. Tidak sama cara hidup budaya Batak dengan suku lain. Namun, kalau Injil, di mana-mana penganut Kristen bisa mengikutinya, dari suku bangsa apa pun. Jadi, Injil lebih luas daripada budaya.

Injil diyakini permanen, kekal, berlaku selamanya, tidak berubah-ubah. Cara hidup menurut budaya yang dibuat oleh manusia dapat berubah-ubah, bahkan situasional. Katakanlah cara hidup orang Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945, itu pun bisa diamendemen, bisa diubah.

Cara hidup menurut budaya bersifat sempit. Sedikit saja yang diurusi budaya dibandingkan buku suci agama. Saya percaya hampir tidak ada yang tidak diatur dalam buku suci.

Buku suci adalah hasil pikir Maha Pencipta, Tuhan, sedangkan budaya adalah hasil pikir ciptaan, manusia. Tidak mungkin ciptaan lebih hebat daripada pencipta. Kalau manusia adalah ciptaan maka patutlah dia mencari tahu cara hidup kepada penciptanya.

Saya buat ilustrasi. Jika Bapak membeli handphone Nokia, di dalam kotaknya itu ada buku aturan pemakaian. Kalau Nokia Bapak rusak, jangan bawa ke bengkel Samsung. Jangan pakai buku manual Samsung untuk Nokia. Jangan pakai ajaran manusia sebagai cara hidup, karena Sang Pencipta sudah membuat “buku manual”. Itulah buku suci.

Oleh karena itu, jika banyak orang berpendapat bahwa dia berhasil mencari “buku manual” cara hidup dari Pusuk Buhit, saya mau katakan bahwa yang di Pusuk Buhit bukan dari Maha Pencipta. Mengapa saya katakan begitu, karena ciri-ciri [ajaran] Maha Pencipta ialah memiliki dokumen tertulis. Salah satu tanda utama dari agama adalah buku sucinya. Saya tidak pernah mendapatkan tulisan-tulisan apa pun yang menyatakan bahwa di Pusuk Buhit ada cara hidup yang tertulis.

Saya percaya bahwa apa pun yang diperoleh di puncak Gunung Pusuk Buhit bukan dari pencipta manusia, karena jelas Tuhan yang saya kenal lewat buku Injil tidak meminta sesajen seperti jeruk purut atau daun sirih.

Katakanlah saya pendukung partai A, tapi saya kantong-kantongi kartu partai B, atau saya simpan bendera partai B di kamar saya, maka saya itu munafik, saya tidak jujur. Kalau saya Kristen, tapi saya hidup tidak seperti orang Kristen, saya munafik. Jadi, artinya, kalau kita pengikut Yesus, ikutilah “buku manual” cara hidup orang Kristen, jangan “buku manual” di Pusuk Buhit.

Oleh Tuhan Yesus, hati kita yang diminta, bukan dalam bentuk benda-benda seperti diberitakan Koran Toba. Saya tidak mengomentari siapa orang tersebut. Saya sedih kalau pada zaman sekarang ini, dengan teknologi yang tinggi, masih ada orang yang berharap, bahkan mengajak orang lain, untuk hidup dengan cara-cara menurut tradisi.

Masa lalu tidak menentukan masa sekarang dan masa depan walaupun kadang terkait. Kalau dahulu nenek moyang kita berperilaku seperti itu, bukan berarti kita harus seperti itu. Dulu saya masih menulis dengan memakai alat tulis geret dari batu. Sekarang sudah ada laptop. Apakah saya harus bertahan dengan alat tulis batu? Artinya, masa lalu tidak selamanya baik.

Dalam cara hidup ini kita harus punya prinsip yang benar. Semua suku di dunia memiliki cara hidup sendiri-sendiri, semua berbudaya, tapi ada cara hidup yang paling baik. Bila sudah ada “cara hidup yang terbaik”, tentu tidak perlu lagi “cara hidup yang baik”. Saya tidak katakan budaya ini salah, tapi saya tidak berusaha mencari yang salah, melainkan mencari yang terbaik.

Contohnya, bagi sebagian orang, setelah berhasil membangun rumahnya, ada yang disebut syukuran dengan menyiramnya dengan tepung beras, itak gurgur. Saya tidak katakan itu salah, tapi yang terbaik adalah berdoa. Dua-duanya sekaligus untuk apa? Menabur ini katanya bertujuan untuk perlindungan, untuk diberkati. Tapi untuk meminta berkat, cukup dengan berdoa. Berdoa lebih baik daripada menyiramnya dengan itak gurgur.

Saya pernah ke Gunung Pusuk Buhit ketika menjadi Camat Palipi tahun 1998 sampai tahun 2000. Waktu itu ada acara, saya tidak sampai ke puncak, tapi ke lokasi perkampungan di Sigulatti.

Saya ingin mengajak pencinta koran Bapak untuk lebih banyak melihat ke masa depan, karena yang di depan lebih indah daripada yang di belakang. Masa lalu tidak menentukan masa depan. Bodoh kita manusia di masa lalu, jahat di masa lalu; kalau begitu, seharusnya sekarang kita sudah mati di dalam penjara. Bukan berarti kita tidak perlu mengingat masa lalu. Ibarat kaca spion mobil, sesekali kita perlu melirik ke belakang, tapi kita harus tetap lebih memperhatikan jalan di depan. Sopir, kan, sekali-sekali saja melirik kaca spion.

Demikianlah kita dengan masa lalu. Yang di Pusuk Buhit itu masa lalu, Pak. Kalau besok ada lagi pembangunan yang lebih hebat di Kabupaten Samosir, dibuat di situ lapangan olahraga terbang layang gantole, misalnya, mungkin akan terjadi pergeseran ritual di tempat itu, yang selama ini disebut sakral.

Saya mau katakan, mari kita belajar. Cara hidup orang Indonesia secara budaya adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Cara hidup keagamaan adalah menurut Injil atau kitab suci masing-masing. Sekarang ini justru banyak orang memperlakukan buku suci agamanya bukan sebagai yang utama. Saya percaya buku suci agama lebih baik dan lebih lengkap daripada ajaran yang diterimanya secara manusiawi atau ajaran leluhur.

Saya baca di koran Bapak, ada yang membandingkan Gunung Pusuk Buhit dengan Salib Kasih di Tarutung dan wisata iman di Dairi. Salib Kasih dan wisata iman itu menggambarkan rohani kristiani, dan apa yang mereka lakukan di sana sesuai dengan buku suci Kristen. Ada juga dibangun di sana bidang bisnisnya, kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomi. Di Pusuk Buhit tidak ada dominasi agama yang mengatur, sedangkan di Salib Kasih jelas, agama Kristen yang mendominasi. Demikian juga di Dairi, menggambarkan agama-agama yang ada di Indonesia. Ada gambaran Buddha di sana, ada rumah suci Islam, masjid, dan lain-lain. Tapi di Pusuk Buhit saya tidak tahu ajaran agama apa, kecuali hanya sejarah Raja Uti, masa lalu.

Ada ajaran yang saya pelajari: seseorang yang sudah menemukan mutiara terbaik, dia akan menjual hartanya yang lain untuk mendapatkan mutiara terbaik itu.

Saya bisa memahami orang pergi ke Gunung Pusuk Buhit kalau motivasinya untuk berwisata atau belajar sejarah Batak. Saya setuju. Tapi kalau dia termotivasi ke Pusuk Buhit untuk mencari cara hidup atau berdoa, jika saya dimintai pendapat, saya akan larang. Cukuplah untuk wisata, jangan lebih.

Saya akan berdoa kepada Tuhan agar tidak banyak lagi orang yang mencari cara hidup di puncak Gunung Pusuk Buhit.

Catatan Jarar F. Siahaan: berita ini saya terbitkan pertama kali dalam Koran Toba pada tahun 2013.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 1 JULI 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Lagu Batak yang Dibawa Mati Jenderal Panggabean