Langsung ke konten utama

Jansen Siahaan Bukan Tunakarya

Jansen Siahaan adalah pemuda Batak Toba yang tunadaksa, tubuhnya cacat sejak kanak-kanak, tetapi dia mampu bekerja secara mandiri. Pria yang tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, ini memperoleh ilmunya dengan cara swadidik: rajin membaca buku dan situs web di internet.

oleh Jarar Siahaan | 839 kata

pria Batak Toba marga Siahaan Balige Toba Samosir
Jansen Siahaan di dalam lapak montir elektroniknya di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, Februari 2016. (Foto: Jarar F. Siahaan)

“Tuhan, kalaupun tangan dan kaki anakku tidak bisa lagi sembuh, saya mohon setidaknya dia dapat berbicara dengan normal,” kata Lisken Simangunsong, 58 tahun. “Seperti itulah saya sering berdoa. Asalkan anak saya tidak gagu, saya sudah senang,” katanya ketika dijumpai tabloid Batak Raya di rumahnya di Kota Balige, Februari 2016.

Anaknya yang dia maksud ialah Jansen Siahaan, 33 tahun, yang fisiknya cacat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Jari-jari kedua tangannya lumpuh, tidak bisa digerakkan secara normal. Kakinya juga pincang sehingga dia mesti berjalan tertatih-tatih. Kelima pancaindranya normal, tetapi dia cacat wicara. Bicaranya lelet. Kata demi kata yang terucap dari mulutnya tidak jelas terdengar.

Jansen anak tertua dari lima bersaudara. Ayahnya sendiri telah berpulang. Dia, adik-adiknya, dan ibunya tinggal di satu rumah papan kontrakan berukuran kecil di Kota Balige, sepelemparan batu dari simpang masuk ke Jalan Gustav Vilgram di Kelurahan Balige I. Rumah hunian itu juga dimanfaatkan oleh ibunya sebagai tempat penitipan bayi, yang menjadi mata pencaharian pokok keluarga mereka.

Lisken Simangunsong menceritakan bahwa cacat tubuh putranya Jansen Siahaan berawal saat usianya baru tiga bulan dia demam tinggi, bahkan sampai step. Selama beberapa tahun kemudian demam dengan step itu sering kambuh. Akibatnya, pertumbuhan fisiknya menjadi terganggu, terutama kaki dan tangannya. Mulai dari usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas dia berjalan pincang.

Lisken dan suaminya, semasa hidupnya, sudah berupaya habis-habisan, termasuk menjual harta benda, untuk kesembuhan Jansen. Pelbagai jenis pengobatan telah dicoba, mulai klinik dokter hingga klenik orang pintar, tetapi tidak ada hasilnya. Tahun 2000, ketika Jansen Siahaan duduk di bangku kelas I SMA Negeri 1 Balige, penyakitnya makin parah. Sebagian kulit badannya melepuh. Sebab itu, dia tidak bisa mengikuti semua mata pelajaran di kelas, dan akhirnya putus sekolah. Mulai hari itu dia pun tidak bisa ke mana-mana kecuali tinggal di rumah.

Walaupun Jansen Siahaan seorang tunadaksa, dia bukanlah pemuda tunakarya. Dia mandiri, memiliki pekerjaan sendiri, dan menghasilkan uang yang halal. Sejak berhenti sekolah, dia sudah mulai berpikir bagaimana supaya dirinya tidak menjadi beban bagi orang tuanya, karena masih ada empat adiknya yang memerlukan biaya pendidikan.

Suatu hari dia membeli alat solder listrik, yang kemudian menjadi aset pertama kerjanya sebagai montir elektronik. “Harga solder itu Rp5.000, Bang,” kata Jansen. Kemudian dia membaca buku-buku elektronika, seperti Elektronika Digital dan Mikroprosesor serta Mesin-Mesin Listrik dan Upgrading And Repairing PCs 14th Edition, untuk memperdalam ilmunya. “Buku-buku itulah guruku,” katanya. Masih banyak buku lain yang dibacanya, termasuk buku-buku berbahasa Inggris dan buku manajemen Kesederhanaan dan Kesuksesan. Ketika ditanya apakah memang dirinya memahami bahasa Inggris, dia menjawab dengan cepat, “Wajib itu, Bang.”

Awalnya dia mempraktikkan keterampilannya dengan mereparasi pesawat radio miliknya sendiri di rumah. Tahun berikutnya dia memperbaiki perkakas tetangga dan teman-temannya, mulai setrika, televisi, sampai komputer. Barulah pada tahun 2006 dia resmi membuka lapak jasa servis dengan mendirikan satu kios sempit dari bahan kayu bekas di pekarangan rumah mereka.

Sekarang dia sudah cekatan menyervis hampir segala macam peranti elektronik, termasuk gawai digital, seperti laptop dan ponsel. Tablet Android mogok, sama sekali tidak bisa dihidupkan? “Gampang itu,” kata Jansen. Pengguna jasanya tidak perlu membayar Rp200.000 untuk memformat perangkat Android seperti di gerai servis yang lain. “Hanya Rp50.000 cukup,” katanya.

Layanan yang diberikan Jansen kepada pelanggannya disertai dengan jaminan suku cadang yang asli, bukan imitasi. Semua onderdil dipesannya dari satu toko langganannya di Kota Bandung. “Di sana lengkap dan barangnya asli,” katanya. Dia mengutip biaya servis Rp50.000 sampai Rp100.000 saja. Sedangkan biaya suku cadang tergantung pada harga pembelian dari toko di Bandung. Apabila konsumen tidak mau atau tidak mampu mengongkosi suku cadang yang asli, Jansen terkadang menawarkan onderdil kawe, tetapi hal itu akan diterangkannya terlebih dahulu kepada pelanggan supaya paham akan kelemahan suku cadang nomor dua. Konsumen jasanya bukan cuma penduduk Balige, melainkan juga warga yang datang dari Palipi, Kabupaten Samosir.

Jansen Siahaan tidak cacat akal, tetapi justru pandai. Dia rajin membaca buku bukan hanya yang berkaitan dengan elektronika. Contohnya, dia memiliki dan sudah membaca buku Percaya Tidak Percaya: Masa Depan Dunia Menurut Sandi Alkitab. “Dulu selama SD dia selalu dapat ranking di kelas. Waktu SMP sepulang sekolah, dia sering mengeluh kalau ada gurunya yang kurang pintar mengajar,” kata Lisken Simangunsong, ibu Jansen.

Meskipun raganya bercacat, mental Jansen Siahaan sangat sehat. Saban hari Minggu dia mengikuti kebaktian di Gereja HKBP. Dia menggemari atlet sepak bola Lionel Messi “Mesra Siahaan,” katanya, dan lagu cadas “Bring Me to Life” milik Evanescence. Tidak hanya membaca banyak buku, dia juga mengikuti berita lewat televisi dan internet. Meskipun dia tunapolitik, tidak berarti dia sama sekali buta akan perkembangan negara Indonesia dan kampungnya Kabupaten Toba Samosir. Pada pemilu presiden yang silam dia memilih Joko Widodo di bilik pemungutan suara. Pada pemilu Bupati Toba Samosir tahun 2015 dia mencoblos nama Monang Sitorus. “Tapi dia kalah. Enggak ada duitnya, ha-ha-ha,” katanya.

Jerdin Tampubolon, 45 tahun, salah seorang teman baik Jansen Siahaan, membantu Batak Raya untuk memahami ucapan-ucapan Jansen selama wawancara.

*Dari arsip berita khas tabloid Batak Raya edisi April 2016.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 19 JULI 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Pengakuan Sintua Gereja yang Berselingkuh dengan Istri Sintua