Langsung ke konten utama

Petualangan Sibiobio Simbolon

Nama panggung Sibiobio dari parubatubat Ramses Edison Simbolon muncul di satu kampung nan angker. Dulu di kawasan Tapanuli ia terkenal sebagai pesulap sekaligus pedagang obat di kaki lima. Ia menjual “minyak ajaib” dari burung siburuk, yang konon mustajab untuk menyembuhkan bermacam penyakit.

oleh Jarar F. Siahaan │ 1.804 kata

majalah LAKLAK foto Batak Toba zaman dulu Sibiobio Simbolon
Atraksi sulap Ramses Edison Simbolon alias Sibiobio memasukkan seorang remaja ke dalam goni sebagai pemikat penonton saat ia berjualan obat di kaki lima di kawasan Tapanuli pada 1980-an. (Foto: dokumentasi Sibiobio)

Tahun 1986, Jumat siang di pelataran toko beberapa meter dari Bundaran D.I. Pandjaitan di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, dua orang parubatubat, sebutan bagi pengecer obat di kaki lima, yakni si Pakpahan dan Sibiobio, bekerja secara aplusan. Si Pakpahan, yang sudah kelar berjualan ginseng sambil melawak, keluar dari bawah tenda dan duduk mengaso di kedai kopi. Kini giliran Sibiobio, yang bernama asli Ramses Edison Simbolon, mengambil alih mikrofon.

Destar berwarna merah, putih, dan hitam terlilit pada kepala Ramses. Kain pita lebar merah terikat pada pinggangnya. Sembari memutar musik gendang Batak pada kaset pita, ia mengatak bermacam perlengkapan di tanah. Ia dibantu oleh seorang asisten, anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Nantinya anak itu mampu menggendong manusia dewasa berkat “minyak ajaib” jualan Ramses. Ia juga dikebat, lalu dimasukkan ke dalam karung goni, kemudian dijebloskan ke dalam kubus kain setinggi orang dewasa, dan lantas tidak kelihatan lagi, menghilang.

Jumat siang itu, seperti biasanya, Kota Balige amat ramai karena merupakan hari pekan. Banyak sekali pejalan lalu-lalang di jalan raya. Ramses Simbolon berusaha menarik perhatian supaya mereka menghentikan langkah untuk menonton hiburan dan membeli ramuan obatnya. Lewat mikrofon ia memanggil-manggil “uloook… ulaaar…” sambil mendesis “sabar, sabar.” Sejatinya ia bukan dukun, bukan pula penyihir alumnus Hogwarts, sekolah sihir rekaan J.K. Rowling, melainkan hanya parubatubat yang pintar bermain sulap. Ia menghibur orang sambil menjual obat, atau sebaliknya. Karena itulah, setiap sebelum memulai atraksi silap mata, ia selalu marsantabi agar pertunjukannya tidak diganggu oleh orang-orang berilmu hitam: “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kami datang ke kampung Bapak dan Ibu untuk mengadakan hiburan. Ini hiburan tidak dibayar. Bermacam-macam hiburan yang akan kami sajikan, dan di samping itu kami nanti menjual obat. Sebelum mengadakan pertunjukan, kami mohon maaf dari ujung kaki sampai ujung rambut. Karena lidah tidak bertulang, bibir tidak berduri, siapa tahu nanti kami salah bicara sehingga melukai hati, dengan ini kami meminta maaf terlebih dahulu.”

“Sudah, begitu saja, langsung main. Mau kutunjangi pun dia [asistennya] atau mau kuketok kepalanya, tidak apa-apa itu, aman,” kata Ramses Edison Simbolon, 63 tahun, yang saya wawancarai dalam dua kesempatan, Juli dan Agustus 2016, di Pangururan, Kabupaten Samosir, untuk berita khas tabloid Batak Raya.

Ramses sangat lihai menggantung cerita dan permainan sulapnya untuk kembali memperagakan obat dagangannya. Ia seolah-olah menghipnosis penonton agar tidak merasa lelah berdiri berjam-jam dan akhirnya terpikat membeli minyak pijit, obat cacing, atau vitamin B yang ditawarkannya dengan harga lebih mahal daripada harga di toko. Pada era pratelevisi-swasta itu masyarakat Tanah Batak sangat haus akan hiburan, dan parubatubat pemain sulap kayak Ramses adalah penghibur cuma-cuma yang selalu ditunggu-tunggu. Penonton senang menyaksikan pergelaran Ramses. Bunga-bunga kertas keluar dari jempol tangannya; api muncul dari batu; dengan mata terselubung ia mampu menebak warna baju penonton dan siapa yang mengenakan kopiah; ia menyembelih kepala orang sampai berdarah-darah dan “mati”, tetapi kemudian “hidup kembali”; ia menuangkan air putih ke dalam gelas kosong, lalu air tersebut menjadi berwarna-warni. “Itu semua hanya permainan bahan kimia dan kecepatan tangan,” katanya.

Kemudian Ramses Edison Simbolon mengisahkan perjalanannya sebagai pengembara. Ia mulai hidup berkelana dari Kabupaten Samosir ke Kota Medan pada tahun 1969. Awalnya di sana ia bekerja menarik becak, tetapi ban samping becaknya dicuri orang. Ia juga tidak sanggup menahankan panasnya Kota Medan. “Pantat saya jadi tebal,” katanya. “Kalau ditembak dengan senapan angin, tidak akan mempan.” Setelah bertahan hanya tiga bulan menghela becak, ia memutuskan menjadi pedagang kaki lima. Dengan berwadahkan tampah ia menjual pelbagai perkakas kecil berharga murah, dari kancing ritsleting, benang, jarum jahit, kapur barus, hingga penjepit kain jemuran.

Tahun 1971 ia berangkat ke Kota Sibolga dan, setelah beberapa bulan, menuju ke Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan. Di sanalah pertama kali ia melihat pedagang obat tradisional di pinggir jalan. Parubatubat tersebut hanya menggelar tikar kecil untuk menjajakan minyak urut dengan propaganda sederhana: “Ramuan obat ini terbuat dari burung siburuk, cukup dioleskan, dan penyakit Saudara akan sembuh.” Minyak mujarab itu laris terjual. Ramses penasaran, lalu mencari tahu.

Ternyata pedagang obat tersebut berbohong. Ia tidak menggunakan burung siburuk, tetapi hanya anak ayam. Ia mencabut bulu ekor ayam jantan dewasa dan menempelkannya pada pantat anak ayam. Terciptalah seekor burung yang aneh: siburuk imitasi. Bangkai ayam tersebut dicampur dengan akar-akaran, banyak minyak goreng, dan sedikit minyak kayu putih. Ramuan itu dijual dalam kemasan botol kecil sebagai minyak urut mujarab yang berkhasiat menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Tipu muslihat itulah yang kemudian dijiplak bulat-bulat oleh Ramses Simbolon sebagai “ilmu cari makan.” Setiap mau mandi dan tidur ia merapal kata-kata si penjual minyak siburuk dalam bahasa Batak Mandailing. Ia mempersiapkan dirinya menjadi parubatubat profesional.

Pada suatu hari ia memasuki sebuah kampung di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan berpakaian perlente: celana panjang dari karet yang ketat berjenama Sandel King, sepasang sepatu Toyo, dan jam tangan Garuda. “Kayak mana pun jeleknya tubuh orang, kalau sudah memakai celana dan sepatu itu, kita akan terlihat gagah dan berkelas, ha-ha-ha,” katanya. Sungguhpun begitu, sepatu Toyo berbau apak sehingga “saya harus ganti kaus kaki dua kali sehari.” Sepatu, arloji, dan celana itu pulalah yang mesti dijualnya sebagai modal awal berdagang obat.

Ia pun membeli minyak goreng curah sebanyak satu kaleng, dan memasukkan anak ayam dan rempah-rempah ke dalamnya. Setelah persiapan matang, ia berangkat ke Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk mulai berjualan minyak urut siburuk dalam kemasan bambu kecil sepanjang sepuluh sentimeter yang ujungnya disumbat dengan gabus penutup botol Anggur Vigour. Supaya calon pembeli lebih tertarik, ia memberikan bonus jeruk purut atau daun sirih.

Tipu dayanya berhasil. Minyak pijit ala Ramses Simbolon laris manis. Hanya dalam satu kali berjualan ia dapat meraup laba yang banyak: seribu rupiah. Pada zaman itu harga emas hanya Rp2.000 satu gram, dan harga beras sekitar Rp800 per kaleng. “Wah, banyak sekali, pikirku, padahal hanya sekali show di kaki lima, dan itu pun saya baru tingkat belajar,” katanya. “Pekerjaan ini sangat menjanjikan.”

Ia sendiri merasa tidak menipu para pembeli walaupun telah menjual minyak goreng biasa dan menyebutnya minyak khusus burung siburuk. “Memang minyak goreng juga, kan, yang biasanya dipakai tukang urut di kampung-kampung?” katanya. “Jadi, pintar-pintar tukang urutlah. Kalau penyakit orang tidak sembuh juga setelah minyak itu dioleskan, yang salah si tukang urut, bukan saya. Kan, begitu? Ha-ha-ha.”

Sejak itulah hampir saban hari ia menggelar lapak jualan di kaki lima. Ia hidup sebagai musafir nomad, yang bercokol satu atau dua hari saja di suatu kampung sebelum mendatangi kampung lainnya. Ia menjelajahi seluruh pelosok Keresidenan Tapanuli. Hari demi hari ia semakin terampil mengambil hati orang agar membeli minyaknya. Ia senantiasa mengasah kecakapan berkata-kata, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Batak menurut dialek daerah yang ditujunya. Ia mereka trik-trik sulap yang baru. Ia rela meregang-meregangkan urat leher untuk menyaringkan suaranya, karena ia belum memiliki teknologi pelantang, mikrofon, seperti yang sudah digunakan oleh parubatubat lain pada tahun 1970-an.

Dari Kabupaten Tapanuli Tengah ia berkelana menuju ke Kabupaten Tapanuli Utara. Ia mendatangi semua kecamatan: Pakkat, Parlilitan, Doloksanggul, Siborongborong, Pangaribuan, Tarutung, Balige, Laguboti, Parsoburan, dsb. Dari Pangaribuan ia dan tiga orang temannya bergerak ke perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan melalui hutan belantara dengan menunggang kuda. Tibalah ia di sebuah nagari yang konon angker, dan di sanalah tercipta nama barunya, Sibiobio, yang kemudian membawa tuah baginya.

Di kampung itu ia menemukan sebuah pohon raksasa dengan ukuran garis tengah yang belum pernah dilihatnya seumur hidup: hampir sepuluh meter. Pohon tersebut tidak lagi berdaun, tetapi pada petang hari burung-burung elang bertengger di atas dahan dan rantingnya. Seorang kakek bermarga Siregar duduk di dekat pohon, dan Ramses bertanya kepadanya, “Kakek, saya seorang pengembara yang baru tiba di sini. Apa nama kampung ini?” Kakek menjawab, “Ini Sibiobio.”

Setelah berjualan pada malam harinya, mereka menginap di rumah warga setempat. Pukul 05.00 pagi Ramses terbangun dari tidur dan sangat kaget melihat kakek tersebut sedang duduk di sampingnya. “Nanti setelah kau pulang, buatlah namamu Sibiobio,” kata si kakek. “Mengapa, Kek? Apa maksudnya?” tanya Ramses. Namun, anehnya, si kakek menghilang. Ramses yang ketakutan langsung membangunkan teman-temannya. Mereka mengatakan mungkin Ramses hanya bermimpi atau didatangi roh.

Pagi hari sebelum meninggalkan Sibiobio, mereka singgah kembali di bawah pohon raksasa itu. Hampir tiga jam lamanya Ramses duduk termangu-mangu di sana. Sebelum beranjak pulang, ia berbatin: Mulai sekarang namaku adalah Sibiobio. Suatu hari kemudian ia mengetahui dari ibunya di Pangururan bahwa kata sibiobio sama maknanya dengan pengembara.

Persis seperti nama barunya itu, Ramses “Sibiobio” Simbolon pun bertualang ke Jakarta dan tetap menjadi penjual obat di kaki lima. Di kawasan Monas ia menjual minyak urut, tetapi bukan lagi “minyak goreng siburuk”, melainkan minyak pijit bermerek resmi yang dibelinya dari toko. Obat-obatan lain yang dijualnya antara lain obat cacing, vitamin, dan pil penambah nafsu makan. Sesuai dengan aturan, ia hanya menjual obat yang tidak tergolong obat daftar G yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Ia juga bergabung dengan Ikatan Pedagang Obat Indonesia.

Tahun 1975, setelah menyimpan uang yang cukup, ia menikahi seorang boru Siahaan dari Lumbansilintong, Balige. Dua tahun kemudian, setelah anaknya lahir di Kota Tanjungbalai, ia kembali merantau ke Jakarta dan menjadi sopir metromini. Akan tetapi, karena berpenghasilan kecil, ia pun nekat berbuat dosa sebagai tukang tambal ban. “Orang menanam ubi, menanam padi, tapi saya menanam paku,” katanya. Ia sengaja menabur mentimun atau mangga yang sudah dicocok dengan paku di tengah jalan raya di simpang empat, beberapa ratus meter dari lapak tempel ban miliknya, supaya ban kendaraan yang melintas tertusuk paku-paku itu dan bocor. Alhasil, mulai pagi hingga malam ia kebanjiran konsumen. “Ndang haladenan sipata, ha-ha-ha,” katanya. “Tapi tidak lama, karena saya menyadari itu dosa.”

Setahun berikutnya ia mengkredit mobil truk dan bergabung dengan Koperasi Angkutan Barang Jakarta. Usaha itu sukses, dan cicilan mobil lunas. Tahun 1985, ibunya sakit sehingga ia pulang kampung ke Pangururan, dan kembali bekerja selaku parubatubat di kawasan Tapanuli. Namun, setelah menyadari dirinya sudah lama jauh dari keluarga, agama, dan adat, akhirnya ia menggudangkan semua perkakas sulapnya pada tahun 1991, dan mengakhiri petualangan sebagai pedagang obat keliling antarkampung.

Selanjutnya ia berdagang cabai ketika harganya melangit. Ia membentuk organisasi abang becak dan taksi yang pertama di Pangururan sebelum Kabupaten Samosir otonom dari Kabupaten Toba Samosir. Ia mengelola satu kelab malam dengan sekitar dua puluh pramuria di Kabupaten Samosir serta satu lapak jualan jaket dan celana panjang di Medan, yang sekarang jadi “mesin uang” baginya. Ia menjalankan bisnis penyewaan musik untuk pesta. Ia juga mendirikan perusahaan jasa konstruksi dan pabrik pembuatan paving block. Pendek kata, setelah berpuluh tahun berpeluh darah dan berbuat dosa menipu orang, akhirnya ia berhasil membangun rumah gedongan dan membeli mobil tipe mutakhir.

Meskipun demikian, ia tidak pernah bisa melupakan asalnya sebagai parubatubat, sebagai Sibiobio Simbolon si pengembara. Bahkan, lelaki bercucu sembilan, beranak enam, dan beristri satu ini masih sering merindukan bau kaki lima dan sesekali turun ke jalan. “Ini saya iseng-iseng jualan di Medan bulan lalu,” katanya. Ia menayangkan satu video pada layar ponselnya: Sibiobio tengah mengemudikan becak di jalan raya. Becak itu tidak berpenumpang, tetapi bermuatan mainan anak-anak dan balon berwarna-warni.

——————————————
WWW.LAKLAK.ID 26 JUNI 2019

Postingan populer dari blog ini

Tonny Simanjuntak: Bupati Toba Samosir Jangan Lagi Anak Rantau

Pengakuan Sintua Gereja yang Berselingkuh dengan Istri Sintua